Menyongsong Pekan Asi Nasional (PAS) pada awal minggu bulan Agustus, diketahui bahwa kesadaran menyusui ibu di Indonesia masih minim. Data Penilaian Status Gizi (PSG) tahun 2015 menunjukkan hanya 49.7% ibu telah mempraktekkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan 65.1 % bayi kurang dari 6 bulan mendapat ASI Eksklusif. Hal ini juga dituturkan oleh Ketua Pembina Sentra Laktasi Indonesia, dr. Utami Roesli SpA, IBCLC, FABM bahwa pemenuhan ASI esklusif untuk bayi 0-6 bulan hanya memenuhi seperempat dari yang diusulkan.

Beberapa dalih yang turut menyebabkan berbagai alasan timbul dan mempersulit proses pemberian ASI adalah minimnya pengetahuan para ibu akan pentingnya ASI bagi tumbuh kembang anak, dan semakin maraknya promosi susu formula. Sebagian berdalih karena kesibukan bekerja sehingga tidak sempat memberikan ASI eksklusif selama minimal 6 bulan dan lebih memilih susu formula yang tentu saja jauh berbeda dalam komposisi gizinya.

Dilansir dari penelitian yang menyebutkan bahwa pemberian ASI selama minimal 6 bulan hingga 24 bulan merupakan standar makanan bayi yang wajib dilakukan. ASI telah didesain khusus oleh Tuhan untuk pemenuhan nutrisi bagi bayi baru lahir. Hal ini menjadi penting karena komposisi ASI yang bersifat dinamis (kandungan yang terus berubah) menyesuaikan dengan tingkat pertumbuhan bayi. Berbeda dengan susu formula yang memiliki kandungan yang tidak berubah seiring dengan tingkat pertumbuhan bayi. Perlakuan terhadap susu seperti proses pendinginan dan pasteurisasi dapat mempengaruhi kondisi fisik maupun substansi seperti kadar lemak, protein, dan mikroba yang ada. (Abubakar et al, 2001)

Tidak hanya sifatnya yang dinamis ASI mengandung komponen bioaktif berperan sebagai agen anti infeksi dan anti inflamasi, faktor pertumbuhan, serta prebiotic alami. Komponen seperti karotenoid dan selenium berperan sebagai sistem pertahanan tubuh bayi. Selain itu beberapa mineral dan enzim untuk antibodi yang lebih efektif dibandingkan kandungan dalam susu formula. Kejadian diare 50% dan infeksi saluran pernapasan 60% dapat dicegah dengan meningkatkan breastfeeding (Ballard, 2013). Anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif dapat cenderung memiliki tingkat intelegensia tinggi serta daya tahan tubuh yang kuat. Breastfeeding (pemberian ASI) eksklusif pada bayi usia kurang dari 6 bulan merupakan salah satu intervensi gizi spesifik yang terbukti ilmiah dalam penurunan angka stunting.

Bagaimana dengan Ibu yang tidak dapat memberikan ASI dengan alasan kesibukan bekerja?

Pemerintah turut mengeluarkan Peraturan Bersama 3 Menteri (Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Menteri Kesehatan) – No. 48/MEN.PP/XII/2008, PER.27/MEN/XII/2008 dan 1177/MENKES/PB/XII/2008 tentang Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja.

Menjadikan 1 Agustus sebagai hari ASI nasional bukan tanpa arah dan langkah. Demi mencapai sasaran pembangunan pangan dan gizi sesuai RPJMN 2010-1014 dan RAN-PG 2011-2015, yaitu menurunkan pravelensi kekurangan gizi balita termasuk stunting, maka pemerintah sedang berupaya maksimal dalam menyediakan pemenuhan nutrisi para penerus generasi dengan memberikan pelayanan konselor ASI yang kemudian diresmikan menjadi IKMI (Ikatan Konselor Menyusui Indonesia) terdiri dari 3000 konselor yang merupakan tenaga kesehatan seperti ahli gizi dan bahkan ibu rumah tangga dapat menjadi konselor menyusui ini.

Begitu banyak upaya pemerintah Indonesia untuk menggalakkan dan meningkatkan pemberian ASI eksklusif pada generasi bangsanya. Dimulai dari jaminan dari penerapaan kebijakan di tempat-tempat kerja, hak untuk mendapatkan cuti hamil dan melahirkan, serta adanya konselor ASI yang siap membantu konsultasi dan proses menyusui. Dengan demikian, diharapkan para ibu tidak lagi berdalih dengan kesibukan kerja untuk tidak melangsungkan ASI eksklusif.

 

Daftar Pustaka

ABUBAKAR. (2001). Pengaruh Suhu dan Waktu Pateurisasi terhadap Mutu Susu Selama Penyimpanan . Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 6(1):45-50.

Ballard, O., & Morrow, A. L. (2013). Human Milk Composition: Nutrients and Bioactive Factors. Pediatric Clinics of North America, 60(1), 49–74.

http://www.depkes.go.id/article/print/1450/banyak-sekali-manfaat-asi-bagi-bayi-dan-ibu–.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.